Kiddos.

Melentur buluh biarlah dari rebungnya.

this is so cute :D

ps . I'm not a part of society yang sudah punya anak sendiri kecuali anak tekak. Cuma menulis berdasarkan apa yang dipandang. Value the words. 

I've been seeing these kinds of situation in parental hood these days. Is it just me or what?

Situasi : Parents telling their very infant children to cheat while playing " Tiup Belon Sampai Pecah " like pinch the balloon or even use your finger nails. Like Do anything : to get your victory.

At the end of the day, a very very simple situation like this akan melahirkan seorang manusia yang sanggup lakukan apa sahaja, ketepikan halal dan haram, yang penting : Kejayaan Depan Mata. A very indirect process of learning. Sebab dari kecik, masa masa sukaneka cenggini, parents dia ajar untuk menipu. Like seriously ini game Tiup Belon Sampai Pecah bukan Cubit Belon Sampai Pecah. How could you cheer you children with something bad like that. 

Simple analogy yet masuk list boleh dihadam dengan kepala. 

Situasi : Masukkan anak anak dalam pertandingan seperti Idola Kecil. Menari Terkinja Kinja di Astro Ceria. And cheered like hell. Promoting a life yang tak sihat untuk anak anak. I mean moreover for those Muslim parents. Alasan : Menengahkan bakat anak anak. Like seriously? o.o 

Parents sekalian, dulu tak khatam ke sylibus " Dosa anak-isteri yang tak menutup aurat dan sewaktu dengannya akan ditanggung sekali : masuk siap dalam buku di bahu kiri " . Mana pergi langkah Cegah.Tegur.Larang. Would you be labelled as  a typical retarded old-school parents kalau tak allow anak mengeluarkan bakat terendam atas stage untuk tatapan umum?  I said NO.

WHY YOU LET THEM TO ENTER SUCH WORTHLESS COMPETITION? 

Jangan pernah buka laluan yang akan membuatkan anak tu lebih liar. Its like : Masa umur 12 tahun you allow you daughter masuk Idola Kecil bagai, ianya tak mustahil waktu umur dia 21 tahun dia mohon nak masuk Mentor. Simple ideas. Yaaa iyaaa dulu bapak bagi masuk Idola kecil, mengapa tidak sekarang? masakan tidak boleh masuk Mentor * dialog anak *

Situasi : Parents belikan apaaaa sahaja yang anak dia nak, You Know What I Mean, as long as boleh reduce tahap menangis. Boleh jadi umpan untuk buat anak senyap.

As far as I could remember, kalau dedulu masa kecik, pergi pasar ( my dad told us this  *so bukan I-remember-sangatlah-kan* haha ) kitaorang adik beradik kalau jumpa tempat orang jual mainan, we'll stand in front of the stall and cakap " Nak tengok je *suara innocent bebudak* " and berlalu pergi meninggalkan memori yang hanya memandang permainan. Never ever my dad akan simply allow us to buy all those stuff. Sebab aku sendiri boleh kira apa je mainan yang aku ada termasuk patung yang mata tutup time dia baring, bukak time berdiri . But now seeing my kiddos yang cenoet cenoet semua, mintak apaaa je dapat, sorang satu laktuuu, they have no sense of sharing things despites terpaksa pakai baju warisan kakak abang. 

Like seriously kenkadang aku question dalam kepala, seeing my small cousins taknak share things like makanan dengan adik beradik sendiri. Hentak kaki nak sorang satu. WHY U NO SHARE KIDDOS? dalam masa yang sama sambil *patah karipap belah dua - scene zaman opahh opahh *

I don't if teknologi merupakan sesuatu yang menjadi keperluan kepada anak anak kecil zaman kini untuk membesar. Like letting your child to have an iPhone. A Tablet. A Note. They let them hold it 24 seven. Letting all those technologies mengajar anak anak. I know its hard to interpret situasi camni nak ikut fasa fasa aku membesar dulu. 

But then : Does it that necessary for you to leave everything to the talking-with-no-heart-iPhone6-7-8-9-10 or what?  

T.T
 Mengingatkan diri sendiri di masa hadapan. 

Parenting skill. A syllabus yang akan bentuk anak lalu jalan apa nanti here after. Jangan berpandukan  norma masyarakat. Pandukan dengan Al-Quran dan praktikkan Addin. Jangan malu anak suara katak tak reti nyanyi atau pitch terabur , malu kalau anak tak mampu nak recite Al-Quran Nul Karim. Yang tukang nak lentur rebung tu, mestilah kena betulkan diri sendiri dulu. Berubah walau payah.

No comments: